Executive Summary

Salah satu misi dari BAZNAS RI adalah “Modernisasi dan Digitalisasi Pengelolaan Zakat Nasional Dengan Sistem Manajemen Berbasis Data yang Kokoh dan Terukur”. Hal tersebut sangatlah relevan karena dalam menghadapi industri 4.0, modernisasi dan digitalisasi menjadi instrumen yang penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan zakat. Komitmen serius dari BAZNAS ini perlu menjadi perhatian khusus dan diimplementasikan oleh seluruh penggiat zakat di Indonesia.

Akan tetapi, terdapat gap atau jarak antara kondisi ideal yang ingin diraih oleh misi tersebut dengan realita yang ada. Tidak hanya kinerja modernisasi yang masih jauh dari potensi, ketidakmerataan antara satu OPZ dengan OPZ lainnya dalam hal digitalisasi juga masih menjadi kendala utama. Salah satu faktor dari hambatan gerakan modernisasi dan digitalisasi zakat ini adalah kurangnya amil dengan skill yang relevan, sedangkan amil adalah garda terdepan OPZ untuk menghadapi dinamisnya perubahan zaman. Oleh karena itu, policy brief ini berusaha untuk menawarkan sebuah model pembinaan yang dapat membantu mentransformasi mustahik tidak hanya menjadi muzaki, namun juga amil atau pegiat zakat yang memiliki tekad serta kemampuan untuk berkontribusi pada gerakan modernisasi dan digitalisasi lembaga zakat.

 

Rekomendasi

Ada dua model yang dirumuskan oleh Policy Brief ini. Kedua model tersebut memiliki kelebihan serta kekurangan sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi yang dimiliki oleh OPZ

1. Model Pertama

  1. Lembaga zakat melakukan kelas pelatihan digital dengan institusi pelatihan yang menawarkan program yang relevan dan dapat memberikan sertifikasi terhadap skill yang diajarkan. Dengan kata lain, OPZ memiliki posisi sebagai pihak yang menghubungkan institusi pelatihan dan pelajar. Adapun kelas khusus ini dibuka terhadap mustahik-mustahik binaan OPZ yang memiliki minat serta talenta terhadap digital skills.
  2. BAZNAS sebagai lembaga negara non-struktural dapat bekerja sama dengan lembaga pemerintah lainnya seperti Kementerian Kominfo yang sebelumnya telah memiliki program Digital Scholarship Program.

2. Model Kedua

  1. Lembaga zakat membuka kesempatan mustahik yang mengikuti kelas pelatihan digital untuk mendapatkan bantuan dalam bentuk uang tunai. Dengan kata lain, OPZ bertindak sebagai pemberi beasiswa kepada mustahik yang memenuhi kriteria dalam mendapatkan bantuan tersebut.

3. Output

  1. Kemampuan digital yang dimiliki mustahik dapat memiliki sumber pemasukan yang cukup tinggi sehingga mustahik secara ekonomi bisa lebih mandiri bahkan dapat menjadi muzaki.
  2. Dengan akad pengabdian, lulusan program digital skill dapat dikirim ke OPZ daerah-daerah yang masih kekurangan SDM dengan kemampuan digital. Lulusan ini juga dapat membuat pelatihan terhadap amil lain agar jumlah amil yang memiliki kemampuan tersebut dapat meningkat.
  3. Dengan digital skill yang dimiliki, para muzaki dengan digital skill ini diharapkan mampu meneruskan dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman. Alhasil, program ini tidak hanya memberikan skill-skill duniawi, namun juga skill spiritual.

 

Model Pendidikan Digital bagi Mustahik